Mendefinisikan dan Membatasi Masalah Penelitian (Research Problem)

Tahap pertama yang perlu dilalui untuk melakukan penelitian adalah mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap masalah penelitian (research problem). “Masalah penelitian (research problem) adalah sebuah pernyataan (statement) yang jelas dan pasti mengenai sebuah hal yang menjadi perhatian, sebuah kondisi yang perlu ditingkatkan, sebuah kesulitan yang perlu dieliminasi, atau sebuah pertanyaan mengganggu yang ada pada karya ilmiah baik secara teori ataupun praktik yang menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan akan pemahaman dan investigasi yang lebih dalam” (Bryman, 2007). Jika kita tidak dapat mendefinisikan dan membatasi masalah penelitian maka pertanyaan penelitian (research question), yang merupakan tahap kedua dari proses penelitian, tak akan dapat diformulasikan.

Puluhan atau bahkan ratusan situasi / fenomena terjadi di sekeliling kita seperti: orang-orang yang tinggal di jalanan, ketidak hadiran siswa di sekolah, tawuran antar siswa, perdagangan narkotika, tingkat stres warga perkotaan, dan lain sebagainya. Situasi ini sangatlah beragam dan luas sehingga membatasinya menjadi penting agar penelitian yang kita lakukan menjadi lebih terarah mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan. Dua langkah berikut perlu kamu lakukan untuk mentransformasi sebuah situasi umum atau topik yang menarik menjadi sebuah masalah penelitian yang terdefiniskan dan terbatas:

1. Mendeskripsikan Latar Belakang dari Masalah yang Diteliti

Untuk mendeskripsikan apa yang terjadi di balik sebuah situasi / fenomena, kita harus melakukan analisa terhadap pihak-pihak yang terlibat, sudut pandang yang ada sekarang, faktor-faktor penyebab situasi, konsekuensi yang mungkin terjadi, dan teori-teori yang dapat menjelaskan situasi. Maka dari itu data-data seperti gambar, video, pengamatan langsung terhadap situasi, percakapan dengan orang-orang yang terlibat dan pihak ahli, serta peninjauan literatur akan membantumu memahami situasi tersebut lebih dalam. Dengan analisa yang dilakukan, pertanyaan-pertanyaan yang lebih menjurus terhadap topik pun akan mulai muncul.

Sebagai contoh, jika terdapat banyak orang yang hidup di jalanan, kita harus mengetahui kebijakan apa saja yang telah dibuat untuk mengatasi masalah tersebut, hal apa saja yang telah dipelajari dari fenomena, masalah lain apa yang memiliki keterkaitan dengan situasi ini, lembaga apa saja yang ikut mendukung, dan bagaimana pandangan para tuna wisma sendiri terhadap kondisinya atau pandangan pihak lain yang tinggal di sekitarnya. Dengan memiliki pengetahuan lebih mengenai sebuah situasi dan sebuah daftar masalah yang mungkin untuk diinvestigasi, akan lebih mudah untuk kita mendefinisikan dan membatasi masalah.

2. Definisi dan Pembatasan Masalah Penelitian (research problem)

Di langkah kedua ini, kita harus memilih salah satu masalah yang teridentifikasi dari proses analisa dan mendefinisikan tujuh aspek dari masalah tersebut.

a. Conceptual delimitation: definisikan masalah secara singkat, padat & jelas dengan menjawab dua pertanyaan di bawah.

  • Bagaimana masalah tersebut didefinisikan pada studi lainnya?
  • Bagaimana penamaan dari masalah tersebut di studi lain?

Menjawab dua pertanyaan di atas akan memberimu jawaban tentang apa yang harus diteliti. Sebagai contoh, jika kamu tertarik dengan fenomena semakin banyaknya orang yang tinggal di jalanan, kamu harus menyadari (aware)bahwapenamaan dari masalah ini di studi sebelumnya adalah tunawisma, dan kamu harus mendefinisikan konsepnya berdasarkan studi yang sudah ada.

b. Relevansi dari masalah: mengapa masalah ini penting untuk diinvestigasi? Ini dapat dijawab dengan lima parameter di bawah.

  • Risiko dari masalah
  • Biaya ekonomi, politik dan kemanusiaan yang terkait dengan masalah
  • Apakah jumlah masalah meningkat atau menurun dalam waktu dekat ini?
  • Apakah masalah telah menyebar ke daerah lain?
  • Apakah hal ini telah disadari sebagai masalah atau tidak?

Menjawab lima parameter di atas akan memberimu alasan mengapa penelitian ini penting untuk dilakukan.

c. Penerapan: apakah mungkin hasil dari penelitian ini dapat digunakan secara praktis, teoritis dan akademis? Ini dapat dijawab dengan dua parameter di bawah.

  • Dampak apa sajakah yang akan dirasakan ketika kita mengetahui lebih banyak mengenai masalah ini?
  • Di bidang apa saja peningkatan ilmu mengenai masalah ini akan memberikan kontribusi?

Menajawab dua parameter di atas akan memberimu alasan mengenai kegunaan dari penelitian.

d. Batasan fisik-geografik: jika kamu memiliki sumber daya yang terbatas, tidak mungkin untuk kamu meneliti masalah yang sama di banyak tempat. Tentukan prioritas.

  • Di mana saja masalah ini terjadi?
  • Di daerah mana masalah ini dapat diteliti dengan lebih mendalam? Kita harus memberikan alasan yang jelas mengapa sangat penting untuk meneliti masalah tersebut di lokasi yang dimaksud.

Menjawab dua pertanyaan di atas akan memberimu batasan dimana masalah akan diteliti.

e. Batasan waktu: apakah mungkin masalah tersebut hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu? Masalah bisa saja terjadi tergantung dengan musim, bulan, atau tahun tertentu. Peneliti harus menunjukkan alasan dibalik dipilihnya waktu tertentu untuk melakukan penelitian tersebut. Ini akan memberimu jawaban kapan sebaiknya penelitian dilakukan.

f. Latar belakang: aspek ini membicarakan tentang studi sebelumnya pada masalah yang sedang diteliti. Penulis harus memberi tahu pembaca tentang:

  • Apa yang telah diketahui dan tidak diketahui mengenai masalah ini?
  • Bagaimana masalah tersebut telah diinvestigasi? Metode & data seperti apa yang digunakan?
  • Aspek apa yang masih diperdebatkan mengenai masalah ini di literatur yang ada?

Menjawab pertanyaan di atas akan membantu peneliti memahami aspek apa yang belum diteliti atau memerlukan pemahaman yang lebih dalam dan begaimana penelitian yang sedang dilakukan akan menutupi kekurangan tersebut.

g. Formulasi interogatif: kita harus mempertanyakan alasan-alasan di balik penyebab dari masalah, konsekuensi dari masalah, solusi-solusi yang mungkin diterapkan, dan bandingkan terjadinya masalah di tempat atau waktu yang berbeda. Ini akan membantu penulis memformulasikan pertanyaan penelitian.

Akan sangat baik jika kamu dapat menuliskan tujuh aspek dari masalah ini. Dari sana kamu dapat mengevaluasi apakah masalah sudah didefinisikan dan dibatasi dengan baik? Dan apakah penelitian ini akan bermanfaat jika dilaksanakan?

Cara Mengetahui Jika Masalah Telah Didefinisikan dan Dibatasi dengan Baik

Untuk mengetahui apakah masalah telah didefinisikan dan dibatasi dengan baik, kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi:

  • Ringkas dan padat: masalah harus dituliskan dengan singkat, padat, jelas dan mudah untuk dimengerti.
  • Relevan: walaupun tingkat pentingnya masalah merupakan hal yang sangat relatif dan subjektif, penulis harus pandai untuk menyajikannya sehingga sumber daya yang digunakan tidak akan terbuang dengan sia-sia. Tingkat relevansi juga bergantung pada bagaimana penulis menjelaskan efek dari masalah, risiko serta kontribusi penelitian dengan ringkas & padat.
  • Kontekstual: masalah penelitian yang diangkat harus dibatasi oleh ruang geografis, waktu dan latar belakang.
  • Spesifik: sangat dianjurkan agar masalah penelitian merupakan suatu yang benar-benar terjadi dan menyasar satu masalah spesifik yang terjadi di satu daerah tertentu. Jika penulis berusaha untuk membahas banyak hal, penelitian menjadi tidak fokus dan sulit untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Comments

  • No comments yet.
  • Add a comment