Memformulasikan Pertanyaan Penelitian (Research Question) & Hipotesis

Pertanyaan penelitian yang baik akan membimbing penelitinya dalam tiap tahap dari proses penelitian. Jika pertanyaan penelitian tidak diformulasikan dengan jelas maka kita, sebagai peneliti, akan kesulitan untuk menentukan teknik, teori atau data yang sebaiknya digunakan dalam penelitian. Lebih baik kita menghabiskan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk mencari pertanyaan penelitian yang tepat. Perubahan terhadap pertanyaan penelitian di tengah-tengah proses investigasi akan lebih menghabiskan banyak waktu karena kita perlu mengulas kembali masalah dari penelitian serta menentukan ulang metode dan data yang sebaiknya digunakan.

Perlu diingat bahwa pertanyaan penelitian yang baik harus memenuhi 3 kondisi berikut:

  • Ringkas (concise): Gunakan Bahasa yang sederhana dan jelas. Usahakan siapapun yang membaca penelitianmu, termasuk orang yang tidak ahli dalam bidang tersebut, dapat memahami apa yang menjadi pertanyaan dari penelitian. Susunlah kata-kata pertanyaan selugas mungkin dengan menghindari penggunaan kata-kata kompleks.
  • Dapat dicapai (achievable): Pertanyaan penelitian harus memiliki sebuah jawaban yang sangat memungkinkan untuk dijawab dengan data yang mendukung. Ini bisa dilakukan dengan memberikan batasan periode waktu atau wilayah dari objek yang diamati secara jelas.
  • Relevan: Dengan menjawab pertanyaan ini, penelitian akan ikut berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan di bidang terkait, menyelesaikan masalah, menciptakan diskusi baru, atau memiliki dampak ekonomi, sosial dan politik yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat luas.

Jika pertanyaan penelitianmu tidak memenuhi tiga kondisi tersebut, kita harus mempertimbangkannya lagi apakah penelitian ini pantas untuk dilakukan.

Pertanyaan penelitian dapat diformulasikan melalui 6 sudut pandang berikut:

a) Deskripsi (Description): Jika terdapat sedikit sekali pengetahuan tentang masalah yang sedang diteliti, sebuah investigasi deskriptif (exploratory research) bisa kita lakukan. Dalam kasus ini, pertanyaan penelitian dapat dimulai dengan kata “adakah” (untuk mengetahui apakah sebenarnya masalah tersebut benar-benar ada) atau “sejauh apa” (untuk melihat bagaimana perkembangan masalah tersebut dari waktu ke waktu). Contohnya:

“Sejauh apa tingkat kebahagian penduduk di negara-negara Amerika Latin dari tahun 2000 hingga 2017?”

Perlu diketahui bahwa pertanyaan dari penelitian deskriptif tidaklah sesuai untuk keperluan disertasi doktoral karena pertanyaan tersebut hanya membantu peneliti dalam mendetilkan masalah namun tidak membantu mengungkap apa yang melatar belakangi sebuah masalah atau adakah kesamaan antara masalah tersebut dengan fenomena lain.

b) Penyebab (causes): Menyelidiki tentang penjelasan-penjelasan dari terjadinya sebuah masalah. Pertanyaan dengan sudut pandang penyebab ini dapat dimulai dengan “mengapa” atau “apa saja faktor” atau “dalam kondisi seperti apa” atau “apakah hal x dapat menjelaskan atau mempengaruhi”. Awalan tersebut dapat membantu kita mengetahui hal-hal yang lebih spesifik mengenai penyebab dari masalah tersebut. Sebagai contoh:

“Mengapa tingkat kebahagiaan di negara-negara Amerika Latin relatif tinggi semenjak tahun 2000 hingga 2017?”

“Faktor apa saja yang dapat menjelaskan tingginya tingkat kebahagiaan di negara-negara Amerika Latin sejak tahun 2000 hingga 2017?”

“Apakah tingkat kereligiusan mempengaruhi tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin antara tahun 2000 hingga 2017?”

Jika yang menjadi tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui proses yang menjelaskan bagaimana penyebab dapat mempengaruhi masalah yang sedang diteliti, seperti diterapkannya kebijakan baru dalam sebuah organisasi, maka pertanyaan harus diawali dengan kata “bagaimana”. Contohnya:

“Bagaimanakah kebijakan peningkatan pajak konsumen mempengaruhi tingkat kebahagiaan di negara-negara Amerika Latin dari tahun 2000 hingga 2017?”

“Bagaimanakah modal sosial kolektif mempengaruhi tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin dari tahun 2000 hingga 2017?”

c) Konsekuensi (consequences): Ini adalah mengenai pihak atau daerah mana saja yang menghadapi konsekuensi dari suatu fenomena atau masalah. Dalam penulisan pertanyaan, sangat disarankan agar masalah dari penelitian diletakkan di awal, kemudian diikuti dengan pihak dan/atau lokasi yang terkena dampaknya.  Contohnya:

“Pengaruh apa saja yang diakibatkan oleh tingkat kebahagiaan terhadap perkembangan kecerdasan intelektual (IQ) dari para pemuda yang berusia antara 18 hingga 30 tahun di negara-negara Amerika Latin?”

“Bagaimanakah tingkat kebahagiaan yang tinggi mempengaruhi pengeluaran di bidang kesehatan dari negara-negara Amerika Latin?”

“Sejauh apa tingkat kebahagiaan mempengaruhi produktivitas dari para pekerja di negara-negara Amerika Latin?”

d) Solusi: Sudut pandang ini dapat digunakan ketika kamu ingin mencari tahu dampak ketika sebuah solusi atau intervensi terhadap sebuah masalah diterapkan. Sebagai contoh:

“Akankah tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin menurun ketika kebijakan pengendalian kelahiran diterpkan?”

“Sejauh apa implementasi dari kebijakan pengurangan ketimpangan pendapatan mempengaruhi tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin?”

Pertanyaan-pertnyaan seperti ini lebih sering dijumpai pada studi yang bertujuan untuk membuat proyeksi, penuh dengan percobaan, atau dibuat berdasarkan desain (design based).

e) Perbandingan tempat: Gunakan susunan pertanyaan ini ketika kamu ingin mencari tahu apakah masalah yang sama terjadi di lokasi lain dan adakah perbedaan atau persamaan karakteristik pada dua lokasi yang berbeda. Pertanyaan ini akan sering kalian jumpai pada studi-studi komparatif.

“Adakah perbedaan pada tingkat kebahagiaan antara penduduk yang tinggal di area perkotaan dan pedesaan di negara-negara Amerika Latin?”

“Adakah perbedaan dan persamaan dalam tingkat kebahagiaan di antara kaum pekerja (working class) di negara-negara Amerika Latin?”

Pada pertanyaan komparatif ini dapat kamu tambahkan pertanyaan mengenai penyebab atau konsekuensi dari masalah. Contohnya:

“Mengapa beberapa negara di Amerika Latin mempunyai tingkat kebahagiaan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa lainnya?”

f) Perbandingan waktu: Sudut pandang ini dapat dimanfaatkan untuk menginvestigasi bagaimana perkembangan sebuah masalah / fenomena jika dilihat dari dua (atau lebih) titik waktu yang berbeda. Pertanyaan ini cocok digunakan untuk studi-studi longitudinal. Contohnya:

“Sudahkah tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin berjalan stabil dalam waktu 100 tahun terakhir ini?”

“Bagaimanakah perkembangan dari tingkat kebahagiaan penduduk di negara-negara Amerika Latin setelah krisis keuangan 2008 terjadi?”

Setelah beberapa pertanyaan penelitian telah ditulis, sangat disarankan agar kamu berkonsultasi dengan dosen pembimbingmu untuk mendiskusikan apakah hal tersebut pantas untuk diteliti (tentunya dengan mempertimbangkan faktor level pendidikan). Jika sebuah pertanyaan penelitian sudah sangat sering dibahas dan sudah banyak jawaban yang diketahui, lebih baik agar kamu mencari pertanyaan lain. Kamu dapat memilih lebih dari satu pertanyaan selama mereka masih saling berhubungan.

Ingat bahwa batasan periode waktu penelitian berdasarkan satuan waktu tertentu, siapa pihak yang akan dianalisa dan batasan wilayah sangat perlu ditambahkan. Contoh:

“Mengapa tingkat kebahagiaan dari pemuda berusia 18 hingga 30 tahun di Kolombia lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di Peru antara tahun 2000 hingga 2017?”

Dari pertanyaan ini kita tahu bahwa pihak yang diteliti adalah pemuda berusia 18 – 30 tahun, penelitian hanya ditujukan kepada mereka yang tinggal di Kolombia dan Peru, serta penelitian ini hanya akan dibatasi dari tahun 2000 hingga 2017 (selama 18 tahun).

Hipotesis

Jawaban sementara dari sebuah pertanyaan penelitian adalah apa yang disebut dengan hipotesis. Hipotesis bersifat sementara karena dasar dari pembetukannya tidak berdasarkan data namun berdasarkan dugaan yang disimpulkan dari studi sebelumnya atau pengamatan langsung di dunia nyata. Hipotesis inilah yang nantinya akan kita uji kebenarannya dengan membandingkannya dengan hasil analisa data yang terkumpul.

Sebagai contoh, jika pertannyaan penelitian adalah:
“Mengapa tingkat kebahagiaan dari pemuda berusia 18 hingga 30 tahun di Kolombia lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di Peru antara tahun 2000 hingga 2017?”

Maka hipotesis yang mungkin dapat menjelaskan fenomena tersebut berdasarkan peninjauan dari studi sebelumnya dan beberapa pengamatan singkat adalah:

  • Hipotesis 1: Tingkat melek huruf pada remaja berusia antara 18 hingga 30 tahun di Kolombia yang lebih tinggi berakibat pada lebih tingginya tingkat kebahagiaan remaja Kolombia dibandingkan dengan Peru.
  • Hipotesis 2: Partisipasi para pemuda di organisasi non-pemerintahan berakibat pada lebih tingginya tingkat kebahagian pemuda di Kolombia dibandingkan dengan Peru.

Pertanyaan penelitian dan hipotesis ini akan membantu kita untuk mengidentifikasi indicator yang perlu diukur.

Sumber Informasi: Quantitative Analysis: the guide for beginners (Oleh: Julián Cárdenas)

Comments

  • No comments yet.
  • Add a comment